• Web
  • INDAHNYA BERBAGI
  • Rabu, 30 Januari 2013

    Meningkatkan Nilai Tambah Ikan Lewat Pengolahan dan Pengawetan

    Potensi hasil laut Indonesia, khususnya ikan cukup besar. Diperkirakan mencapai 70.000 ton per tahun. Untuk memberikan nilai tambah terhadap hasil ikan, mengingat ikan mudah busuk, perlu dibuat alternatif pengolahan atau pengawetan guna memperpanjang masa simpan dan masa distribusinya. Bisa dengan cara pembekuan, pengalengan, pengasinan, pemindangan, atau pengasapan. Untuk Industri Kecil Menengah umumnya melakukan pengolahan dan pengawetan berupa ikan asin, ikan pindang dan ikan asap. Disamping cara pembuatannya mudah peralatannyapun sederhana.

           Ikan juga dapat diolah melalui pengasapan. Hal ini merupakan salah satu inovasi mengawetkan ikan tanpa menggunakan bahan pengawet buatan atau kimia, yakni melalui pengasapan dengan bahan bakar kayu atau sabut kelapa. Ikan yang diasapkan umumnya ikan tongkol, ikan kerapu, ikan patin dan ikan nila. Proses pengolahannya, ikan segar dibelah dari bagian punggung disiangi (dikeluarkan insang dan isi perut ). Lalu dicuci dengan air garam. Kemudian direndam dengan air garam dicampur jeruk nipis selama 30 – 40 menit, agar awet dan kering. Untuk memudahkan pengasapan, ikan ditusuk dengan bambu. Pengasapan atau pemanggangan dilakukan selama 1 jam atau 1,30 menit, dengan api kecil agar proses pematangannya sempurna. Setelah pengasapan dianggap merata ikan diangkat dan didinginkan. 

          Ikan presto (duri lunak), Pembuatan ikan presto hampir sama dengan proses pembuatan ikan pindang. Bedanya pada proses perebusan, untuk bandeng presto menggunakan panci vacuum stainlless steel. Ikan presto banyak ditemukan di Jawa Tengah, menggunakan ikan bandeng (Bandeng Presto ) Proses pengolahannya, ikan bandeng yang berukuran sedang atau besar dibersihkan sisik dan isi perutnya, lalu dicuci. Lantas tambahkan bumbu bawang putih, kunyit, garam yang sudah dihaluskan daun salam, disesuaikan dengan jumlah ikan yang diolah. Selanjutnya diletakkan kedalam emberember plastik selama 30 –1 jam agar bumbunya menyerap. Baru kemudian dimasukkan dalam ketel pengukus, lapis demi lapis diselingi plastik. Kemudian dikukus pada suhu 127 derajat celcius dengan tekanan 2 atm selama 2-3 jam. Setelah masak, diangkat, lalu didinginkan dalam baskom dan dibiarkan tanpa dikipas.

           Untuk pengemasan sebaiknya menggunakan plastik jenis PVC yang food grade. Sedang kemasan luarnya menggunakan karton dupleks. Ini dimaksudkan saat pengiriman, bandeng tidak mudah rusak atau hancur Selain pengolahan dan pengawetan yang disebutkan diatas, masih ada pengolahan lain yang biasa dilakukan dalam skala kecil untuk kebutuhan rumah tangga seperti abon ikan, bakso ikan, kerupuk ikan, dan lain-lain. Hanya saja pengolahannya masih terbatas pada penggunaan ikan yang tidak laku dijual atau sisa penjualan dari nelayan. Untuk itu pembinaan kepada pelaku usaha yang bergerak dalam usaha ikan (ikan laut & ikan darat) lebih ditingkatkan, khususnya pelatihan teknis yang dapat langsung diterapkan sebagai suatu kegiatan usaha. Yang selanjutnya dapat memberikan nilai tambah pada ikan. Lusiana Mohi    

    Sumber : http://ikm.kemenperin.go.id/